3:08 pm - Wednesday October 18, 7020

Trisno Sumardjo, Sang Pejuang Kesenian

Trisno Sumardjo

Mungkin generasi masa kini tak banyak yang mengenal sosok pujangga yang satu ini. Trisno Sumardjo, putra dari seorang guru bantu di zaman pemerintahan kolonial Belanda. Lahir di kota Surabaya pada tanggal 6 Desember 1916.

Pada tahun 1942, dia hijrah ke kota Madiun untuk bekerja sebagai pegawai di Jawatan Kereta Api. Pada tahun – tahunnya inilah, Trisno Sumardjo mulai tertarik untuk menulis karya sastra. Salah satu karya awalnya berupa naskah drama yang diberi judul “Dokter Kambudja”.

Merasa pekerjaannya tidak sesuai dengan bidang yang ia gemari, dua tahun kemudian Trisno Sumardjo pindah ke kota Solo. Di kota inilah, ia bertemu dengan sesama seniman lain yang kemudian bergabung untuk mendirikan majalah “Seniman”. Tak puas berkreasi di kota pusat kebudayaan Jawa itu, ia kemudian memutuskan untuk berpindah lagi ke Jakarta.

Di kota metropolitan, Trisno Sumardjo sempat menjadi bagian dari beberapa redaksi majalah seni dan budaya. Sampai akhirnya pada Juli 1950, ia diberi kepercayaan untuk menjadi sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia. Lalu, di tahun 1956, ia dipercaya sebagai sekretaris di Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional.

Trisno Sumardjo tak hanya lihai sebagai pengarang, namun juga cemerlang dalam bakat sebagai penerjemah. Sepanjang 50 hingga 70an, telah puluhan karyanya yang diterbitkan. Beberapa diantaranya adalah kumpulan cerita pendek “Daun Kering”, “Kata Hati dan Perbuatan”, dan masih banyak karya lain, diantaranya adalah terjemahan karya – karya William Shakespeare, Boris Pasternak, De La Fontaine, dan lain lain.

Pada September 1963, Trisno Sumardjo ikut mencetuskan Manifes Kebudayaan, yang kemudian dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno. Selama hidupnya, Trisno Sumardjo telah banyak memberikan sumbangsih dalam bidang pemikiran dan pengembangan kebudayaan bagi Indonesia. Hingga pada 20 Mei 1969, sebulan setelah ia meninggal dunia, Trisno Sumardjo bersama dengan H.B. Jassin dianugerahi Satya Lencana Kebudayaan sebagai pengakuan pemerintah Republik Indonesia terhadap kesenimanannya.

Filed in: Seni dan Budaya

No comments yet.

Leave a Reply