10:47 pm - Wednesday October 18, 2017

Soewarsih Djojopoespito, Sang Sastrawan Lintas Bahasa

Soewarsih, perempuan Sunda kelahiran Bogor, 20 April 1912. Nama Djojopoespito yang disematkan dibelakang namanya adalah nama sang suami, Soegondo Djojopoespito yang merupakan seorang tokoh pergerakan nasional.

Soewarsih DjojopoespitoSoewarsih tak hanya fasih berbahasa Sunda dan bahasa Indonesia saja, tapi juga mahir berbahasa Belanda. Kritikus  H.B. Jassin sendiri menilai bahwa dalam karya – karya sastranya, Soewarsih lebih luwes menulis dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1937, ketika usianya baru 25 tahun, Soewarsih menulis sebuah roman dalam bahasa Belanda yang berjudul “Buiten Het Gareel”. Roman ini, pada tahun 1975 diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Soewarsih sendiri dan diberi judul “Manusia Bebas”.

Roman pertamanya yang diterbitkan oleh penerbit dari Belanda membuat namanya termasyur baik di Indonesia maupun di Belanda. Kata pengantarnya dibuat oleh sastrawan kenamaan asli Belanda, Eduard du Perron. Bercerita tentang sepasang suami istri, Soedarmo dan Soelastri, yang berama – sama berjuang dalam pergerakan nasional di bidang pendidikan. Kisah ini sesungguhnya adalah riwayat Soegondo dan Soewarsi sendiri.

Setelah roman pertamanya, Soewarsih terus menulis berbagai roman dan cerpen baik dalam bahasa Sunda, Indonesia maupun Belanda. Dalam cerpen yang ia tulis di tahun 50-an, Soewarsih banyak mengangkat cerita tentang pelecehan lelaki terhadap perempuan. Tak hanya menulis roman dan cerpen seputar kehidupan nyata, tak jarang ia juga menulis cerita – cerita yang penuh imajinasi. Sayangnya, karya – karya Soewarsih yang banyak menuai pujian di negeri Belanda, justru kerap kali hujan kritik di negeri sendiri.

Diluar kegiatannya sebagai penulis karya sastra, Soewarsih aktif sebagai guru dan redaktur. Ia pernah menjadi pengajar di Perguruan Rakyat, Taman Siswa, Pasundan Isteri dan juga HIS. Di masa revolusi, Soewarsih sempat menjabat sebagai anggota Komite Nasional Pusat sekaligus wakil kepala Biro Perjuangan Wanita. Ia juga pernah aktif menjadi jurnalis di majalah – majalah Indonesia berbahasa Belanda.

Selain menulis, ia juga gemar membaca karya sastra dunia. Seumur hidupnya didedikasikan bagi perjuangan di dunia pendidikan hingga menutup mata pada tahun 1977.

Filed in: Seni dan Budaya

No comments yet.

Leave a Reply