11:36 pm - Sunday October 22, 2017

Penyatuan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Edisi Baru

Buku sastra klasik dari Ahmad Tohari kini kembali digemari. Terbukti dari beberapa kali penerbitan ulang serta kembali diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Film berjudul “Sang Penari” yang telah dirilis pada tahun 2011 tersebut telah berhasil menyabet banyak penghargaan bergengsi.

Film yang dibintangi oleh Prisia Nasution dan Oka Antara ini bukanlah film pertama yang diadaptasi dari buku “Ronggeng Dukuh Paruk”. Pada tahun 1983, telah dibuat film pertamanya berjudul “Darah dan Mahkota Ronggeng” yang dibintangi oleh Ray Sahetapy dan Enny Beatrice.

Pesona karya Ahmad Tohari ini sepertinya tak pernah padam. Novel pertamanya sendiri pertama kali terbit pada tahun 1982. Dan terus dicetak ulang tanpa mengurangi esensi yang terkandung dalam ceritanya.

Pada awalnya novel ini diterbitkan terdiri dari tiga buku (trilogi), yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Kemudian kini diterbitkan ulang oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dalam satu buku sekaligus. Tak hanya menyatukan tiga buku sebelumnya, buku terbaru ini pun berani memasukkan bagian – bagian yang telah disensor selama 22 tahun.

Mengambil latar tahun 1960-an, Ahmad Tohari menyoroti kehidupan desa yang masih begitu alami. Anda akan menikmati kesederhanaan kehidupan warga desa yang masih buta huruf pada tahun tersebut.

Tak hanya kesederhanaan, Anda akan dibawa untuk lebih memahami kearifan dan suasana alam yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa kini.

Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk bernama Srintil. Berbagai jalan terjal yang harus ia lalui untuk menjadi seorang ronggeng sejati. Juga perihnya cinta yang menghempaskan jiwanya.

Lebih dari itu, Srintil dan rombongan ronggeng beserta seluruh warga Dukuh Paruk pada akhirnya harus menjadi korban konflik politik para penguasa negara. Mereka yang seumur hidupnya begitu asing dengan kata politik, harus menanggung “dosa” yang sama sekali tidak pernah mereka pahami.

Dukuh Paruk yang sejatinya tentram meski dirundung kemiskinan dan kelaparan, justru menjadi korban kekuasaan yang penuh ambisi.

Filed in: Seni dan Budaya

No comments yet.

Leave a Reply