6:25 pm - Saturday October 21, 2017

Mau Dibawa Kemana Bahasa Jawa?

bahasa jawa

bahasa jawa

Melihat kehebohan massal setiap terjadi “dugaan pencurian” kebudayaan Indonesia oleh Malaysia, saya jadi teringat pada fenomena unik di daerah kelahiran saya. Sebuah desa kecil di kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Fenomena yang saya maksudkan ini adalah fenomena modernisasi yang menurut saya sudah terlalu jauh lepas dari akar budaya.

Budaya yang paling dasar, yaitu bahasa Jawa tampaknya sudah dianggap tidak menarik lagi para Ibu muda masa kini. Contoh paling sederhana adalah, jika Anda mengunjungi kampung saya ini, Anda tidak akan mendengar anak-anak kecil memanggil orang tuanya dengan sebutan Bapak,Ibu,Mak’e,Buk’e,Pak’e, melainkan “Mama-Papa”. Itu pun sekarang sudah lebih “maju” lagi.

Jika Anda bertemu anak usia sekitar 5th di kampung saya, sebagian besar dari mereka akan dengan fasih menjawab pertanyaan berbahasa Indonesia. Namun justru clingak-clinguk kebingungan ketika ditanya dalam bahasa Jawa halus. Sungguh miris, pasalnya kampung saya benar-benar sebuah kampung/desa, bukan perkotaan.

Saya sendiri dahulu ketika masuk SD belum bisa berbahasa Indonesia karena bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa terdiri dalam beberapa tingkatan yang masing-masing berbeda fungsinya. Secara garis besarnya saja ada bahasa halus (kromo) untuk berbicara pada yang lebih tua dan bahasa kasar (ngoko) untuk berbicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda. Sebetulnya sejak jaman saya kecil, tata bahasa ini sudah mulai sedikit “diringkas”. Tidak banyak teman-teman saya yang bisa berbahasa kromo, bahkan kepada kedua orang tuanya sekalipun, mereka biasa menggunakan bahasa ngoko.

Sungguh ironis, padahal sebetulnya tingkatan bahasa ini menjadi simbol kesopanan yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan kini, bukan saja tingkatan bahasa tersebut yang mulai terlupakan tapi bahasa Jawa itu sendiri sudah mulai semakin tenggelam.

Yang saya ingat ketika saya kecil, dari Ibu dan Bapak lah pertama kali saya tahu bahasa Jawa. Dan dari beliau pula saya tahu perbedaan bahasa untuk orang yang lebih tua dengan teman sebaya. Tapi kini, justru para orang tua muda lebih bangga ketika dipanggil “Mama-Papa” oleh anaknya, dan lebih senang berbicara bahasa Indonesia kepada mereka. Seolah dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka tampak lebih elit dan eksklusif. Bahasa Jawa hanya dipandang sebagai bahasa yang yang telah usang dan ketinggalan jaman.

Kalau dalam contoh paling sederhana seperti ini saja kita mengabaikan dan menghilangkan unsur budaya, lalu apakah hak kita untuk marah jika kebudayaan itu pada akhirnya menarik minat negara lain untuk memilikinya?

Filed in: Opini

No comments yet.

Leave a Reply