11:39 pm - Sunday October 22, 2017

Ayu Utami Luncurkan Buku Terbaru Seri Bilangan Fu

Ayu Utami, penulis berprestasi Indonesia ini kembali menerbitkan buku terbarunya. Buku yang diberi judul “Maya” ini merupakan buku ketiga dari seri Bilangan Fu. Berbeda dari dua buku sebelumnya, “Manjali dan Cakrabirawa” serta “Lalita” yang menampilkan lengkap tiga orang tokoh utamanya, dalam buku ketiga ini, tokoh utama yang muncul hanya Parang Jati saja.

Latar dominan yang diambil kali ini adalah di Candi Prambanan dan Padepokan Suhu Budi. Menariknya lagi, Ayu Utami mengambil latar sejarah lengsernya mantan Presiden RI paling kontriversial, Soeharto di tahun 1998. Dan jika Anda belum membaca karya dwilogi Ayu Utami yang berjudul “Saman” dan “Larung”, sebaiknya Anda membaca dua karya apik tersebut sebelum membaca novel Maya. Dalam Maya, Ayu Utami mempertemukan tokoh dari dwilogi “Saman” “Larung” dengan tokoh-tokoh dari Bilangan Fu. Dan jika Anda telah membaca dwilogi tersebut, Anda akan menemukan jawaban akhir ceritanya dalam novel ini.

Ayu-Utami1

Berikut adalah sinopsis singkat novel “Maya” :

“Setelah dua tahun Saman dinyatakan hilang, kini Yasmin menerima tiga pucuk surat dari kekasih gelapnya itu. Bersama surat itu Saman juga mengirimkan sebutir batu akik. Untuk menjawab peristiwa misterius itu Yasmin yang sesungguhnya sangat rasional terpaksa pergi ke seorang guru kebatinan, Suhubudi, ayah dari Parang Jati. Di Padepokan Suhubudi Yasmin justru terlibat dalam suatu kejadian lain yang baginya merupakan perjalanan batin untuk memahami diri sendiri, cintanya, dan negerinya—sementara Parang Jati menjawab teka-teki tentang keberadaan Saman. Cerita ini berlatar peristiwa Reformasi 1998.”

Novel dengan tebal 249 halaman ini telah diterbitkan pada December 2013 oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Dan hingga hari ini telah mendapatkan rating 3,66 di situs Goodreads. Berikut ini beberapa review pembaca yang diambil dari Goodreads :

“Membaca Bilangan Fu : The Series seperti membaca buku sejarah dan mengusik sisi gelap kita sebagai manusia. Buku ini “memaksa” kita menyelami kisah dan pengalaman hidup tokoh-tokohnya yang digambarkan apa adanya, tidak melulu baik hati dan baik budi. “  (Mumpuni Pratiwi)

“Buku ini memberikan kesadaran bahwa kita seringkali tertipu dengan mata materialisme; membantu saya mengerti tentang Eyang Semar dan beberapa petuah hidup yang tertuang dalam perwayangan.” (Driyan Natha)

“I felt breathless when I completed Bilangan Fu. Like at the end of a long run. Bilangan Fu bewitched me. The prequels were equally hypnotizing: Manjali and Cakrabirawa was mind-boggling. Lalita opened up doors. Maya propelled me to unexpected heights. I definitely look forward to the next of Ayu Utami’s Bilangan Fu series.” (A)

Filed in: Seni dan Budaya

No comments yet.

Leave a Reply